Satu-satunya alasan yang membuatnya senang begitu ujian skripsi selesai adalah bahwa “Dia tidak akan menemukan ujian lagi” Ujian yang dimaksudnya adalah soal-soal ulangan sekolah, ujian semester, dan bentuk-bentuk tes lainnya. Dan… .. terakhir adalah Ujian Skripsi. Mengapa demikian, karena selama ini dia merasa bahwa ujian adalah sesuatu yang tidak dia senangi tetapi terpaksa harus dilaluinya dengan sebaik-baiknya. Jujur saja dia tidak suka dengan bentuk, model maupun budaya ujian sekolahan yang bagi dia tidak menunjukkan kemampuan sebenarnya dari seseorang, tetapi hanya untuk melegalkan selembar ijazah atau sepotong gelar.
Terakhir dia berprinsip bahwa mempelajari segala sesuatu bukan agar dia selalu lulus dalam setiap ujian, tetapi itu perlu agar dia menguasai segala sesuatu dan dapat memilihnya dengan baik sesuai keperluan kehidupan dia. Sedangkan untuk menghadapi ujian yang sangat penting untuk kelulusan, dia cukup mengetahui materi pelajaran yang penting-penting saja(baca satu malam sebelum ujian ) dan besoknya silang/isi lembar jawabannya, selesai, titik.
Alhasil, nilai ujian semesternya memang tidak memuaskan banyak orang (dia sendiri sangat puas karena sudah lebih dari sekedar lulus). Sangat berbeda ketika dia SMA karena rangking pertama tidak pernah lepas hingga tamat, tetapi dia merasa tidak mendapatkan sesuatu yang perlu dan berharga dari hasil itu, bahkan untuk mendapatkan seorang pacar saja dia tidak bisa. Lain halnya ketika dia kuliah dengan IPK yang mungkin tidak berharga tetapi dia mendapatkan semua pelajaran yang perlu untuk hidup, dan bahkan dia bisa mendapatkan istri dari salah satu kegiatan saja.

















