Daftar Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini240
mod_vvisit_counterKemarin348
mod_vvisit_counterMinggu ini588
mod_vvisit_counterMinggu lalu2376
mod_vvisit_counterBulan ini7337
mod_vvisit_counterBulan lalu15609
mod_vvisit_counterSemua203487

Online (20 minutes ago): 13
Your IP: 38.107.179.236
,
Now is: 2012-05-21 15:34

ALBUM

bojoku.jpg

Renungan

... Sebuah incubator elearning MIPA untuk SMK dan SMA tengah dikembangkan bersama pakMansur.com. Situs ini merupakan perbaruan dari situs terdahulu yang merupakan elearning kimia untuk SMA Plus Matauli Sibolga SUMUT dan Nusa Alam School Batu Layar Lombok Barat NTB. Mohon do'a dan dukungan para pengunjung yang budiman. Terima kasih.

PEMBELI adalah RAJA, PENJUAL adalah MAHARAJA PDF Print E-mail
Written by pakmansur   
Friday, 30 July 2010 00:00

Tiba-tiba saja komunitas sasak terguncang oleh istilah paling romantis “Pulang Kampung”. Pulang ke kampung halaman memang tidak dimiliki semua orang. Mungkin hanya separuh penduduk dunia ini yang punya istilah pulang kampung, setengah dari itu adalah orang Indonesia, dan setengah Indonesia itu adalah orang Lombok. Mungkin setengah orang Lombok itu adalah sasak diaspora, dan hanya setengah sasak diaspora yang mau pulang kampung. Mungkin juga hanya setengah dari yang pulang kampung itulah yang merasakan “Pulang Kampung “ yang romantis.

Seorang teman dusun saya bertanya tentang kapan saya akan pulang ke kampung halaman, saya bukannya menjawab tetapi malah balik bertanya, “kampung halaman mana yang anda maksud?”, dengan pasti dia menjawab “Lombok lah …mana lagi?”. Dengan sedikit menjelaskan saya jawab “ Benar, kampung saya memang di Lombok, tetapi halaman (baca: penghidupan) saya di Sibolga”. “Lalu kemana saya harus pulang”. Setelah itu diapun bingung juga. Sayapun lebih menegaskan lagi bahwa ketika liburan di Lombok habis, sayapun akan mengatakan “Saya akan pulang ke Sibolga”, saya tidak mengatakan “Saya akan merantau lagi ke Sibolga”.

Lalu teman itu melanjutkan ceritanya kalau sebenarnya dia punya banyak sekali kawan yang tinggal dan berkembang di luar daerah bahkan di luar negeri. Dilanjutkan dengan keheranannya mengapa tidak ada niatan dari raja-raja lombok untuk memanggil pulang mereka ke kampung dan atau menetap kembali di kampung halamannya. Memang ada yang mereka panggil bahkan paksa untuk kembali tetapi itu sesuai selera mereka, bukan sesuai kebutuhan mereka, yah… palingan keluarga mereka, atau yang diakuinya sebagai kelurganya saja….Mentang-mentang mereka raja sih… kayaknya mereka bebas menentukan siapa yang mereka beli…. Katanya agak putus asa. Lho.. jadi mereka sangat faham kalau “ PEMBELI ADALAH RAJA” kata saya, berarti mereka menganggap lombok adalah miliknya sehingga dialah yang menentukan siapa-siapa yang berhak mengurus lombok itu, dan mungkin sasak diaspora dianggap sebagai penjual ide dan gagasan saja yang mau dibeli atau tidak bukan urusan orang lain (Untung mereka tidak bilang bukan urusan Tuhan juga). Kecuali di kasih (datang/pindah sendiri) mereka ambil sebagai pesuruhnya dan tidak akan diberi peluang berkembang dan untuk menutupi kelemahannya mereka tidak segan-segan bilang “Eh semeton…jangan lupa kampung halaman ya!”

Saya menebak-nebak kalau kecendrungan inilah yang membuat sasak diaspora sampai saat ini enggan untuk pulang kampung, “Mau pulang tidak terpakai, nggak pulang dianggap lupa …” kata seorang semeton. “Jangan pulang … kalau 3 bulan berikutnya kamu akan momot meco juga” cegah semeton lainnya. “Ingin ikut membangun kalaupun tidak harus hijrah” pilihan semeton lainya. “tunggu kita kaya dan kuat dulu…” saran seorang semeton lagi. Dengan sedikit geram saya berteriak kalau datu-datu lombok merasa sebagai “PEMBELI ADALAH RAJA” maka diaspora harus membungkam mereka dengan prinsip “PENJUAL ADALAH MAHARAJA” .

Sebenarnya seseorang tidak mudah untuk mengambil keputusan pulang kampung, banyak faktor yang harus dipertimbangkan dan banyak untung rugi yang harus diperhitungkan, terlebih bagi seorang diaspora. Pengakuan sebagai diaspora bukanlah simbol belaka, melainkan buah dari perjuangan panjang dan melelahkan tanpa mengharap apapun dari kampung. Kalau ada keinginan para sasak diaspora pulang kampung sebenarnya adalah wujud kepedulian bukan sebuah kewajiban, adalah sebuah keperluan bukan sebuah kebutuhan. Betapa sasak diaspora lelah untuk mengekang warisan budaya yang melekat untuk sekedar melepaskan potensinya yang terkubur di kampung. Betapa sasak diaspora sibuk untuk memilih karakter yang terlanjur identik untuk sekedar membuat pilihan yang berbeda. Lalu setelah semua itu dilalui dengan merasakan kekuatan makna diaspora, siapakah yang berhak menyuruh kita pulang kampung?

Memang seorang raja dapat memilih dengan congkaknya siapa-siapa yang akan menjadi bawahannya, dan dapat juga menetukan siapa-siapa orang yang berhak mendekatinya, dan bahkan bisa memberantas siapa saja orang yang akan melawanya. Tetapi diatas RAJA ada MAHARAJA. Bagi diaspora kemampuan bertahan dan berkembang tanpa asuhan tanah kelahiran adalah bukti bahwa potensi mengembangkan tanah kelahirannya pasti ada. Tetapi sebagai Maharaja, diaspora berhak dan dapat memilih Raja yang tepat untuk diajak duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. Maharaja tahu persis dimana dia dibutuhkan bukan sekedar diperlukan, dan diaspora tahu kapan dia berbagi, kapan dia akan hijrah, dan kapan dia pulang ke kampung dengan atau tidak membawa serta halamannya.

“Kamipun tidak ingin pulang hanya dibawa dalam gorong batang” pesan seorang semeton, yang menyiratkan bahwa kalau tidak bisa berbuat, kalau tidak diberi ruang hati, kalau tidak dipandang sebagai pemilik lombok, kalau Raja tidak sanggup membeli Maharaja, buat apa kita pulang. Kalaupun pulang hanyalah untuk keperluan semata bukan sebuah kebutuhan, karena sebenarnya yang harus membeli adalah para raja sedangkan Maharaja boleh menjual boleh tidak. Dan kalaupun nanti diaspora pulang kampung adalah semata atas nama keinginan, kepedulian terhadap nasib seluruh keluarga yang ada di bangsa sasak.

Comments (6)
  • Anonymous
    so that students can not beats by dr dre read the text. The Kai Fate students cheap beats by dre born can be divided into learning slow and learnpandora jewelry learn backward, but in perception, action is slower than others, the focus of training cheap gucci bagsis to improve their perceptual speed. People's focus is no longer a brain injury, but to learncheap beats by dre the characteristics of the process and the academic performance of the contact.
  • ルイヴィトン財布  - ルイヴィトン財布
    マチがしっかりしており、お札をた ルイヴィトン財布くさん収納するのはもちろん、ファスナー式になっている小銭入れは、小銭が散らばらず出し ルイヴィトンバッグ入れしやすく、カードをたくさん持ち歩くヘビーユーザーの方でも難なく使える仕様になっており、デイリーで大活躍する ルイヴィトンこと間違いなしの長財布となっております。cj05-11
  • ルイヴィトン財布  - ルイヴィトン財布
    マチがしっかりしており、お札をた ルイヴィトン財布くさん収納するのはもちろん、ファスナー式になっている小銭入れは、小銭が散らばらず出し ルイヴィトンバッグ入れしやすく、カードをたくさん持ち歩くヘビーユーザーの方でも難なく使える仕様になっており、デイリーで大活躍する ルイヴィトンこと間違いなしの長財布となっております。cj05-11
  • Beats Headphones  - Beats Headphones
    On windy cold weather, Cycling Jersey are used as the outward protection layer; this is the one that comes over regular Cycling Shorts, this layer usually includes wind stopping materials or its older variant G-tex in Bike Jersey. These days, the markets are flooded with replica Tiffany & Co-these cheap jewelry can never match the quality of authentic Tiffany. Juicy Couture Bags has covered everything a woman could ever want. From everyday wear to cocktail dresses, Juicy Couture Outlet to glamorous Juicy couture purse, and flip flops to perfumes, Juicy Couture Laptop Bag has consistently marketed itself as the go-to for something unique and something flashy. The Kids North Face Jackets, pretty breathable water resistant and to the dispute of environment change. Air Jordan Shoes is one of the most popular brands of shoes ever released. Retro Jordan 11 has released a new model of Cheap Air Jordans each year. Like cars having luxury brands, based on high starting point Monster Beats r...
Write comment
Your Contact Details:
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
 

GANTI BAHASA

Indonesian Afrikaans Arabic Catalan Chinese (Simplified) Chinese (Traditional) Danish Dutch English Filipino French German Italian Japanese Korean Persian Portuguese Russian Spanish Thai Turkish Vietnamese

TWITTER

Tidak Ada Yang Abadi Selain Perubahan

Daftar Pengunjung