|
RAMADHAN YANG FILANTROFIS |
|
|
|
|
Written by pakmansur
|
|
Thursday, 28 July 2011 00:00 |
|

MARHABAN YAA RAMADHAN...
Bulan Ramadhan telah datang di depan mata dan siap mengetuk pintu hati segenap ummat manusia agar kesadaran filantrofis yang terkandung dalam hikmah bulan Ramadhan berupa dorongan untuk menderma dan membantu orang-orang yang membutuhkan benar-benar merasuki setiap insan dengan niat yang tulus dan ihlas.
Tidak terhitung berapa bulan Ramadhan yang telah dilewati umat manusia, namun kehidupan sosial kemasyarakatan nampaknya jauh dari spirit Ramadhan. Ramdhan yang seyogyanya merupakan puasa dari segala bentuk hawa nafsu tidak mengurungkan nafsu konsumerisme sebagian orang, bahkan sering terjadi bulan Ramadhan justru menjadi bulan bisnis. Tentu saja itu semua berpulang kepada niat setiap orang, karena seharusnya puasa bukan menjadi halangan untuk beraktivitas seperti biasanya, hanya saja ada batasan dan spirit ibadah yang lebih mengental di dalamnya. Dan yang lebih penting lagi adalah bekas-bekas goresan Ramadhan harus tetap terpancar di hati dan perbuatan kita setelahnya.
Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menjalani Puasa kali ini dengan sebaik-baiknya sehingga fitrah dan ketaqwaan tertanam dalam diri kita dan segenap ummat manusia. amin.
|
|
Last Updated on Thursday, 28 July 2011 07:17 |
|
HAK PROTOKOLER vs HAK JELATA |
|
|
|
|
Written by pakmansur
|
|
Tuesday, 12 August 2008 17:00 |
|
2014 masih 3 tahun lagi namun hawa politik sudah sedemikian hebohnya, bahkan gemuruhnya mengalahkan dahsyatnya isu KIAMAT 2012. Kasus demi kasus yang membelit negeri ini seolah hilang bak angin lalu, kabar hukum tebang pilih semakin terpinggirkan, kasus korupsi merebak sampai ke warung kopi, Nazaruddin, Gayus, Century, Surat Palsu MK, dan seterusnya mengalir saja tetapi tak berbekas.
Dimanakah pemerintah dan penguasa pengawal hak-hak jelata rakyat pemilik negeri. mereka sibuk dengan mempertahankan hak-hak protokolernya tanpa sedikitpun mengingat hak-hak asasi dari kaum jelata. Tentu saja tidak semua pejabat pemerintah seperti itu, masih banyak diantara mereka yang masih saja lantang menyuarakan suara rakyat, akan tetapi saking lantangnya sampai tidak terdengar.
Sungguh situasi yang membuat kita tidak tahu dimana kita berada. gerakan demi gerakan telah lahir, partai demi partai dideklarasikan, tak sedikit Satgas telah dibentuk, bahkan Panja, Pansus, dan entah apa namanya... hanya menggambarkan bahwa kita memang jagonya membuat istilah dan institusi. Maka jangan lagi berharap munculnya ratu adil yang memang hanya cerita... mencari kawan saja sulit.
Tentu saja berkeluh kesah merupakan bagian dari ketidakmampuan negeri ini. Menyalahkan orang lain atau menyalahkan diri sendiri juga perbuatan yang tidak berguna. Maka sebaiknya kita tetap bergerak di sisi kita masing-masing. Tidak ada orang yang akan bertanggungjawab kecuali diri kita sendiri. Kalau berharap dari orang lain, apalagi harus meminta atau mengajarkan dulu maka sama saja dengan mengajar ikan berenang, paling untung juga mengajarkan burung terbang.
Bagaimana menurut anda...
|
|
Last Updated on Wednesday, 27 July 2011 19:49 |
|
|
Written by pakmansur
|
|
Saturday, 09 August 2008 15:33 |
|
Elearning ini akan dibangun dengan LMS MOODLE dan content dari WEB EXE , seperti elearning terdahulu yang telah dikembangkan pakmansur.com
harap bersabar akan segera OL
terima kasih
|
|
Last Updated on Saturday, 30 July 2011 16:17 |
|
JAUH TAPI DEKAT/DEKAT TAPI JAUH |
|
|
|
|
Written by pakmansur
|
|
Saturday, 07 July 2007 16:54 |
|
Kali ini bukan sekedar membalik kalimat, tetapi membalik arah kehidupan. Nanti bukan sebuah kesimpulan, tetapi sebuah jalan keluar. Yang jelas bukan sekedar "Jauh dekat sama saja", tetapi bisa sama bisa beda.
Saya tidak tahu dari mana harus memulai tulisan ini, semua ide dan perasaan seolah gamang menerawang terbang ke awang-awang. Sebenarnya tanpa tulisan inipun segalanya tampak telanjang bahkan tanpa riset investigasipun segala data sudah ada. Yang jelas kehidupan rakyat turun temurun semakin menurun, sedangkan pejabat dan kerabatnya semakin meningkat.
Gajah dipelupuk mata tidak tampak sedangkan semut di seberang lautan tampak, barangkali masih berlaku dalam arti amelioratifnya. Mengapa tidak, kecendrungan untuk mengingat (baca:memperhatikan) kampung halamannya dari tempat yang jauh adalah sebuah keniscayaan, tetapi bukan mustahil (baca:kebanyakan) orang tidak bisa melihat halaman kampungya sendiri.
Ketika saya berada ditempat jauh dari kampung, saya merasakan dan sering mengatakan bahwa kampung saya nun jauh di sana tetapi halaman saya memang di sini, dan ini berarti memberi perhatian yang sama kepada kampung dan halaman. Tetapi manakala saya berada di dekat bahkan dalam kampung, sangat sulit untuk mengatakan inilah kampung halaman saya sendiri, dan ini berakibat saya tidak bisa berbuat banyak kepada kampung dan halaman.
|
|
Last Updated on Saturday, 16 July 2011 17:58 |
|
Read more...
|
|