Daftar Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini245
mod_vvisit_counterKemarin348
mod_vvisit_counterMinggu ini593
mod_vvisit_counterMinggu lalu2376
mod_vvisit_counterBulan ini7342
mod_vvisit_counterBulan lalu15609
mod_vvisit_counterSemua203492

Online (20 minutes ago): 18
Your IP: 38.107.179.239
,
Now is: 2012-05-21 15:40

ALBUM

ambo122.jpg

Renungan

... Sebuah incubator elearning MIPA untuk SMK dan SMA tengah dikembangkan bersama pakMansur.com. Situs ini merupakan perbaruan dari situs terdahulu yang merupakan elearning kimia untuk SMA Plus Matauli Sibolga SUMUT dan Nusa Alam School Batu Layar Lombok Barat NTB. Mohon do'a dan dukungan para pengunjung yang budiman. Terima kasih.

JAUH TAPI DEKAT/DEKAT TAPI JAUH PDF Print E-mail
Written by pakmansur   
Saturday, 07 July 2007 16:54

Kali ini bukan sekedar membalik kalimat, tetapi membalik arah kehidupan. Nanti bukan sebuah kesimpulan, tetapi sebuah jalan keluar. Yang jelas bukan sekedar "Jauh dekat sama saja", tetapi bisa sama bisa beda.

Saya tidak tahu dari mana harus memulai tulisan ini, semua ide dan perasaan seolah gamang menerawang terbang ke awang-awang. Sebenarnya tanpa tulisan inipun segalanya tampak telanjang bahkan tanpa riset investigasipun segala data sudah ada. Yang jelas kehidupan rakyat turun temurun semakin menurun, sedangkan pejabat dan kerabatnya semakin meningkat.

Gajah dipelupuk mata tidak tampak sedangkan semut di seberang lautan tampak, barangkali masih berlaku dalam arti amelioratifnya. Mengapa tidak, kecendrungan untuk mengingat (baca:memperhatikan) kampung halamannya dari tempat yang jauh adalah sebuah keniscayaan, tetapi bukan mustahil (baca:kebanyakan) orang tidak bisa melihat halaman kampungya sendiri.

Ketika saya berada ditempat jauh dari kampung, saya merasakan dan sering mengatakan bahwa kampung saya nun jauh di sana tetapi halaman saya memang di sini, dan ini berarti memberi perhatian yang sama kepada kampung dan halaman. Tetapi manakala saya berada di dekat bahkan dalam kampung, sangat sulit untuk mengatakan inilah kampung halaman saya sendiri, dan ini berakibat saya tidak bisa berbuat banyak kepada kampung dan halaman.

 

 

Saya tidak tahu dari mana harus memulai pekerjaan ini, semua rencana dan strategi membentur dinding. Sebenarnya tidak ada yang memaksa untuk menjalankan itu semua dan mungkin tidak ada yang membutuhkan hasilnya nanti. Yang jelas sebagian besar mereka pasrah dibalik kata berkah, sedangkan sebagian kecilnya sangat menikmati patgulipat yang kian menyekat.

Seorang Gajah komunitas pernah berpetuah “jangan pulang dulu sebelum …” barangkali tetap terjadi paling tidak untuk mahluk kecil. Bagaimana tidak, celah masih sangat kecil untuk dilalui sedangkan pintu terlalu banyak untuk dilewati dan ruangan teramat besar untuk sekedar singgah.

Ketika macan-macan kampung telah kembali untuk menyerap semua suara kampung dan kita berharap menjadi raungan yang memenuhi halaman selaparang, ternyata tidak. Mereka terlalu asyik dan enggan diusik, mereka semakin kuat dan tidak berbuat banyak kepada kampung dan halaman.

Seharusnya pendidikanlah yang dapat merubah ini semua, tetapi anehnya pendidikan mendapat porsi kue perubahan terakhir karena kue pertama dan terbesar dalam perubahan dinamika masyarakat saat ini adalah politik. Tidak seorangpun (apalagi saya) dapat memberikan jaminan bahwa pendidikan seperti ini suatu waktu akan berhasil merubah tatanan kehidupan. Tidak perlu jauh-jauh membandingkannya dengan sistem pendidikan di luar negeri yang sudah terbukti hasilnya, dibeberapa daerah saja sudah banyak yang berhasil merubah trend pendidikan khususnya untuk warga kampungnya sendiri.

Masih segar dalam ingatan kita pada dekade 90an orang Sumatera dan Kalimantan mulai menggagas Sekolah Unggulan yang sekarang outputnya sudah mengisi sebagian besar posisi di daerahnya masing-masing (bahkan di luar negeri) dan ternyata mereka banyak melakukan perubahan.

Tidak banyak perbedaan dalam pengelolaan pendidikannya kecuali indepedensi pengelolaan sumber daya pendidikan oleh pendidik dan tenaga kependidikan yang berkualitas dan bertanggungjawab dibarengi dukungan pemerintah daerah maupun pusat.

Hanya itu yang kita perlukan. Saya hanya ingin berada di situ.

Yaah sudahlah… memang jauh ataupun dekat bisa sama ketika kita mau berbuat, tetapi bisa beda dalam cara berbuat. Kita tunggu kelanjutannya.

Comments (4)
  • guest  - bis kota
    kaya bis kota saja... :D
    tapi bener jg ya.
  • Anonymous
    so that students can not beats by dr dre read the text. The Kai Fate students cheap beats by dre born can be divided into learning slow and learnpandora jewelry learn backward, but in perception, action is slower than others, the focus of training cheap gucci bagsis to improve their perceptual speed. People's focus is no longer a brain injury, but to learncheap beats by dre the characteristics of the process and the academic performance of the contact.
Write comment
Your Contact Details:
Comment:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img]   
:D:angry::angry-red::evil::idea::love::x:no-comments::ooo::pirate::?::(
:sleep::););)):0
Security
Please input the anti-spam code that you can read in the image.
Last Updated on Saturday, 16 July 2011 17:58
 

GANTI BAHASA

Indonesian Afrikaans Arabic Catalan Chinese (Simplified) Chinese (Traditional) Danish Dutch English Filipino French German Italian Japanese Korean Persian Portuguese Russian Spanish Thai Turkish Vietnamese

TWITTER

Tidak Ada Yang Abadi Selain Perubahan

Daftar Pengunjung